Cak Nur
Cak Nur
Oleh : Ahmad Syafii Maarif
Harian Republika
Cak Nur (Prof Dr Nurcholish Madjid) adalah cendekiawan dan penulis Indonesia yang sangat produktif sebelum mengalami pencangkokan hati di Cina, kemudian dirawat di Singapura dan di Jakarta selama beberapa bulan. Kondisi kesehatannya memburuk dan ia akhirnya wafat kemarin.
Sewaktu dirawat di Singapura dan di RS Pondok Indah, sudah banyak sekali orang penting dan para sahabat menjenguknya demi menunjukkan simpati dan empati yang amat dalam terhadap Cak Nur. Sewaktu saya dan istri mengunjunginya di RS NUH (National University Hospital), Singapura, beberapa bulan yang lalu, Cak Nur baru saja keluar dari ICU dalam keadaan lemah sekali, tetapi dapat berkomunikasi melalui tulisan Arab-Melayu yang tidak mudah saya baca. Kami hanya trenyuh dan tertunduk hormat sambil berdoa untuk kesembuhannya.
Sebagai sahabat yang pernah bergaul selama lebih empat tahun di Chicago dan mengaji Alquran pada Fazlur Rahman di kediamannya, sekitar 45 mil dari kota itu, saya sampai batas-batas yang agak jauh telah mengenal Cak Nur dari jarak yang dekat. Ketika berbicara, pembawaannya lembut, sopan, serta mengeluarkan pendapat melalui argumen yang kuat dan teratur.
Perkara orang belum tentu setuju dengan hujah-hujahnya, adalah lumrah belaka. Bukankah tafsiran menusia terhadap wahyu yang mengandung kebenaran mutlak tidak pernah benar mutlak semutlak wahyu itu sendiri? Oleh sebab itu, jika ada orang yang memonopoli kebenaran dengan jalan memasung hak orang lain untuk berpendapat berbeda, sebenarnya (secara tidak sengaja atau gegabah?) telah mengambil alih otoritas Tuhan sebagai Sumber Kebenaran Mutlak. Cara berpikir semacam ini sangat berbahaya dan dapat meluluhlantakkan persaudaraan antarmanusia.
Dengan sedikit wacana ini, saya akan langsung memasuki topik utama Resonansi ini yang sumbernya dari saksi mata langsung dan otentik. Demikianlah pada 26 Juli 2005, antara pukul 16.30 dan 17.30, beberapa orang mendatangi Cak Nur di rumahnya, sementara Cak Nur sendiri belum pulih kesehatannya, masih lemah. Menyaksikan kondisi fisiknya, semestinya meluluhkan perasaan mereka yang berhati nurani.
Rombongan ini mengaku membawa pesan Abu Bakar Ba'asyir untuk Cak Nur. Sumber pertama merekamkan: ''Apakah pikiran Cak Nur masih?'' Cak Nur menjawab, ''Saya masih tidak bingung.'' Setelah basa-basi, salah seorang bilang menyampaikan salam Ustadz Ba'asyir, dan bahwa beliau bertanya, dalam buku Fiqh Lintas Agama ada nama Cak Nur dan berpendapat semua agama sama. Cak Nur menjawab, ''Saya tidak berpendapat semua agama sama.''
''Ada tertulis kawin antaragama boleh. Ustadz Ba'asyir minta Cak Nur menarik pendapat itu.'' Seorang lagi mengulangi pesan Ba'asyir, ''Itu pendapat salah, minta Cak Nur mencabut pendapat agama sama dan boleh kawin antaragama. Bagaimana pendapat Cak Nur?'' Cak Nur menjawab, ''Saya tidak dalam kondisi untuk menjawab.'' (Ini informasi via SMS yang saya terima pukul 22.35, pada 14 Agustus 2005).
Hampir serupa dengan yang pertama, sumber kedua antara lain merekamkan: ''Yang mereka sampaikan adalah (katanya) amanat dari Ustadz Abu Bakar Ba'asyir dan M Thalib (dengan asumsi Cak Nur sudah sehat) tentang tiga hal yang ada dalam buku Fiqh Lintas Agama.'' (SMS pukul 06.44, pada 15 Agustus 2005).
Saya tidak berminat mempersoalkan isi dialog itu. Sekiranya Cak Nur sehat, dia akan bisa menjawab berjam-jam semua pertanyaan yang diajukan itu. Yang menjadi keprihatinan saya adalah adab orang menjenguk si sakit. Apakah dalam batas kesopanan Cak Nur diguyur dengan pertanyaan-pertanyaan serupa itu dalam kondisi fisik yang mengundang rasa iba itu?
Rombongan itu 'kan menyaksikan sendiri keadaan Cak Nur dari jarak yang sangat dekat. Mengapa sampai hati ''meneror''-nya dengan berlindung di balik amanah Ba'asyir? Saya sungguh gagal memahami cara orang membawakan pesan agama demikian kasar. Sepengetahuan saya, Ba'asyir bukanlah tipe manusia garang yang suka memaksa-maksa orang lain. Sewaktu saya dan istri menjenguknya di RS PKU Solo pada waktu yang lalu, dia memeluk saya dan mohon doa. Tetapi, mengapa mereka yang menyebut diri pengikutnya seperti tak terkendali, khususnya sewaktu mengunjungi Cak Nur?
Pesan saya sebagai orang tua yang sudah berusia di atas 70 tahun adalah agar orang beragama secara beradab, santun, dan arif dalam menyikapi keadaan. Islam yang saya pahami adalah Islam yang sebangun dengan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi, beradab, dan mulia.
Cak Nur telah wafat. Saya dan keluarga menyampaikan belasungkawa yang sangat dalam dan dalam sekali. Semoga khusnul khatimah
Oleh : Ahmad Syafii Maarif
Harian Republika
Cak Nur (Prof Dr Nurcholish Madjid) adalah cendekiawan dan penulis Indonesia yang sangat produktif sebelum mengalami pencangkokan hati di Cina, kemudian dirawat di Singapura dan di Jakarta selama beberapa bulan. Kondisi kesehatannya memburuk dan ia akhirnya wafat kemarin.
Sewaktu dirawat di Singapura dan di RS Pondok Indah, sudah banyak sekali orang penting dan para sahabat menjenguknya demi menunjukkan simpati dan empati yang amat dalam terhadap Cak Nur. Sewaktu saya dan istri mengunjunginya di RS NUH (National University Hospital), Singapura, beberapa bulan yang lalu, Cak Nur baru saja keluar dari ICU dalam keadaan lemah sekali, tetapi dapat berkomunikasi melalui tulisan Arab-Melayu yang tidak mudah saya baca. Kami hanya trenyuh dan tertunduk hormat sambil berdoa untuk kesembuhannya.
Sebagai sahabat yang pernah bergaul selama lebih empat tahun di Chicago dan mengaji Alquran pada Fazlur Rahman di kediamannya, sekitar 45 mil dari kota itu, saya sampai batas-batas yang agak jauh telah mengenal Cak Nur dari jarak yang dekat. Ketika berbicara, pembawaannya lembut, sopan, serta mengeluarkan pendapat melalui argumen yang kuat dan teratur.
Perkara orang belum tentu setuju dengan hujah-hujahnya, adalah lumrah belaka. Bukankah tafsiran menusia terhadap wahyu yang mengandung kebenaran mutlak tidak pernah benar mutlak semutlak wahyu itu sendiri? Oleh sebab itu, jika ada orang yang memonopoli kebenaran dengan jalan memasung hak orang lain untuk berpendapat berbeda, sebenarnya (secara tidak sengaja atau gegabah?) telah mengambil alih otoritas Tuhan sebagai Sumber Kebenaran Mutlak. Cara berpikir semacam ini sangat berbahaya dan dapat meluluhlantakkan persaudaraan antarmanusia.
Dengan sedikit wacana ini, saya akan langsung memasuki topik utama Resonansi ini yang sumbernya dari saksi mata langsung dan otentik. Demikianlah pada 26 Juli 2005, antara pukul 16.30 dan 17.30, beberapa orang mendatangi Cak Nur di rumahnya, sementara Cak Nur sendiri belum pulih kesehatannya, masih lemah. Menyaksikan kondisi fisiknya, semestinya meluluhkan perasaan mereka yang berhati nurani.
Rombongan ini mengaku membawa pesan Abu Bakar Ba'asyir untuk Cak Nur. Sumber pertama merekamkan: ''Apakah pikiran Cak Nur masih?'' Cak Nur menjawab, ''Saya masih tidak bingung.'' Setelah basa-basi, salah seorang bilang menyampaikan salam Ustadz Ba'asyir, dan bahwa beliau bertanya, dalam buku Fiqh Lintas Agama ada nama Cak Nur dan berpendapat semua agama sama. Cak Nur menjawab, ''Saya tidak berpendapat semua agama sama.''
''Ada tertulis kawin antaragama boleh. Ustadz Ba'asyir minta Cak Nur menarik pendapat itu.'' Seorang lagi mengulangi pesan Ba'asyir, ''Itu pendapat salah, minta Cak Nur mencabut pendapat agama sama dan boleh kawin antaragama. Bagaimana pendapat Cak Nur?'' Cak Nur menjawab, ''Saya tidak dalam kondisi untuk menjawab.'' (Ini informasi via SMS yang saya terima pukul 22.35, pada 14 Agustus 2005).
Hampir serupa dengan yang pertama, sumber kedua antara lain merekamkan: ''Yang mereka sampaikan adalah (katanya) amanat dari Ustadz Abu Bakar Ba'asyir dan M Thalib (dengan asumsi Cak Nur sudah sehat) tentang tiga hal yang ada dalam buku Fiqh Lintas Agama.'' (SMS pukul 06.44, pada 15 Agustus 2005).
Saya tidak berminat mempersoalkan isi dialog itu. Sekiranya Cak Nur sehat, dia akan bisa menjawab berjam-jam semua pertanyaan yang diajukan itu. Yang menjadi keprihatinan saya adalah adab orang menjenguk si sakit. Apakah dalam batas kesopanan Cak Nur diguyur dengan pertanyaan-pertanyaan serupa itu dalam kondisi fisik yang mengundang rasa iba itu?
Rombongan itu 'kan menyaksikan sendiri keadaan Cak Nur dari jarak yang sangat dekat. Mengapa sampai hati ''meneror''-nya dengan berlindung di balik amanah Ba'asyir? Saya sungguh gagal memahami cara orang membawakan pesan agama demikian kasar. Sepengetahuan saya, Ba'asyir bukanlah tipe manusia garang yang suka memaksa-maksa orang lain. Sewaktu saya dan istri menjenguknya di RS PKU Solo pada waktu yang lalu, dia memeluk saya dan mohon doa. Tetapi, mengapa mereka yang menyebut diri pengikutnya seperti tak terkendali, khususnya sewaktu mengunjungi Cak Nur?
Pesan saya sebagai orang tua yang sudah berusia di atas 70 tahun adalah agar orang beragama secara beradab, santun, dan arif dalam menyikapi keadaan. Islam yang saya pahami adalah Islam yang sebangun dengan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi, beradab, dan mulia.
Cak Nur telah wafat. Saya dan keluarga menyampaikan belasungkawa yang sangat dalam dan dalam sekali. Semoga khusnul khatimah


0 Comments:
Post a Comment
<< Home