"IHYA' ULUMIDDIN" KITAB ADAB MEMBACA AL-QUR'AN (3/5)
Subject: "IHYA' ULUMIDDIN" KITAB ADAB MEMBACA AL-QUR'AN (3/5)
INTISARI KITAB
Mau'izhatul Mu'minin min
"IHYA' ULUMIDDIN"
==Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali==
(Bimbingan Mu'min dari Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama)
--------------------------------------------------------------------------------
Bismillah, Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu
`Ala Rasulillah, Wa'ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah
amma ba'du...
KITAB ADAB MEMBACA AL-QUR'AN (3/5)
============================================
Tertib batiniah dalam membaca al-Qur'an
Dalam membaca al-Quran secara batiniah tujuh perkara :
Pertama : Memahami kebesaran percakapan (firman) atau percaya apa
yang terkandung di dalam al-Qur'an dan ketinggiannya, serta kemahaaagungan
Allah s.w.t. dan kemaharahmatNya ke atas sekalian makhlukNya dalam
menyampaikan segala percakapanNya sesuai dengan fahaman mereka.
Kedua : Mengagungkan Zat Allah yang berfirman. Orang yang membaca
al-Quran terlebih dulu hendaklah menghadirkan di dalam hatinya Zat Allah
yang berfirman, agar ia sentiasa maklum bahwa segala firman yang dibacanya
itu bukanlah dari percakapan manusia. Dan kemahaagungan Allah tidak akan
muncul di dalam hati, selagi tiada dapat membayangkan sifat-sifat
kebesaran Allah Ta'ala dan kemahaagungNya dan segala
perbuatan-perbuatanNya.
Andaikata ia dapat menggambarkan di dalam hatinya,
betapa hebatnya Arasy dan Kursi langit dan bumi dan segala isinya daripada
jin manusia, binatang-binatang, pohon-pohonan, dan ia mengetahui dengan
penuh keyakinan, bahwasanya pencipta semua itu dan pengusaannya serta
pemberi rezekinya ialah Satu dan Esa dan segala-galanya adalah di dalam
genggaman kudratNya, sentiasa terdedah di antara menerima kelebihan dan
rahmatNya ataupun menerima siksa dan kemukaanNya.
Kiranya Dia (Allah) mengurniakan kenikmatan, maka demikian itu dengan rahmatNya; dan kiranya Dia meyiksa maka yang demikian itu adalah dengan keadilanNya. Dengan
memikirkan hal-hal yang serupa inilah, akan hadir di dalam hati
penghormatan terhadap Zat yang berfirman; iaitu Allah s.w.t. dan akan
hadir sama juga penghormatan terhadap percakapanNya.
Ketiga : Menghadirkan hati ketika dalam membaca al-Qur'an serta
meninggalkan segala terlintas dari unsur-unsur lain dan mengosongkan hati
daripanya, agar semua tumpuan terhala kepada bacaan membaca surah al-Qur'an
sedang hatinya lalai daripadanya, segera akan diulangi semula
pembacaannya. Sifat ini timbul kerana penghormatan yang telah kita
bicarakan sebelum ini, sebab orang yang menghormati percakapan Allah itu,
apabila ia membaca al-Qur'an itu perkara-perkara yang akan mengembirakan
hati, apabila si pembacanya ahli dalam perkara-perkara itu. Jadi apalah
gunanya lagi untuk mencarai kelapangan hati dengan memikirkan selain dari
isi al_Qur'an, kalau al_Qur'an sudah boleh memberikannya.
Keempat : Memikirkan arti-arti al-Qur'an dan ini akan terlaksana
dengan hadirnya hati ketika membaca al-Qur'an, sebab mungkin sekali ia
tidak memikirkan selain dari al-Qur'an, tetapi ia hanya mementingkan
pendengaran al-Qur'an buat dirinya sendiri, sedangkan ia tiada pula
memahami maknanya. Padahal maksud dari membaca al-Quran itu telah
memikirkan makna-maknanya. Kerana itulah disunnatkan membacanya dengan
tartil, sebab tartil pada lahirnya akan membolehkan pembaca memikirkan
maknanya secra batiniah:
Berkata Ali r.a.: Tiada gunanya sesuatu ibadat yang dilakukakan
tanpa imlu pengetahuan dan bacaan al-Qur'an yang dilakukan tanpa memikirkan
maknanya.
Andaikata dia tidak mampu memahami maknanya melainkan dengan
berulang-ulang membacanya, maka hendaklah mengulang pembacaannya itu,
kecuali jija dia sedang bersembahyang di belakang Imam.
Pernah diriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w bangun ditengah malam (bersembahyang) membaca suatu ayat yang diulang-ulanginya berkali-kali.
(bersambung)
INTISARI KITAB
Mau'izhatul Mu'minin min
"IHYA' ULUMIDDIN"
==Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali==
(Bimbingan Mu'min dari Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama)
--------------------------------------------------------------------------------
Bismillah, Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu
`Ala Rasulillah, Wa'ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah
amma ba'du...
KITAB ADAB MEMBACA AL-QUR'AN (3/5)
============================================
Tertib batiniah dalam membaca al-Qur'an
Dalam membaca al-Quran secara batiniah tujuh perkara :
Pertama : Memahami kebesaran percakapan (firman) atau percaya apa
yang terkandung di dalam al-Qur'an dan ketinggiannya, serta kemahaaagungan
Allah s.w.t. dan kemaharahmatNya ke atas sekalian makhlukNya dalam
menyampaikan segala percakapanNya sesuai dengan fahaman mereka.
Kedua : Mengagungkan Zat Allah yang berfirman. Orang yang membaca
al-Quran terlebih dulu hendaklah menghadirkan di dalam hatinya Zat Allah
yang berfirman, agar ia sentiasa maklum bahwa segala firman yang dibacanya
itu bukanlah dari percakapan manusia. Dan kemahaagungan Allah tidak akan
muncul di dalam hati, selagi tiada dapat membayangkan sifat-sifat
kebesaran Allah Ta'ala dan kemahaagungNya dan segala
perbuatan-perbuatanNya.
Andaikata ia dapat menggambarkan di dalam hatinya,
betapa hebatnya Arasy dan Kursi langit dan bumi dan segala isinya daripada
jin manusia, binatang-binatang, pohon-pohonan, dan ia mengetahui dengan
penuh keyakinan, bahwasanya pencipta semua itu dan pengusaannya serta
pemberi rezekinya ialah Satu dan Esa dan segala-galanya adalah di dalam
genggaman kudratNya, sentiasa terdedah di antara menerima kelebihan dan
rahmatNya ataupun menerima siksa dan kemukaanNya.
Kiranya Dia (Allah) mengurniakan kenikmatan, maka demikian itu dengan rahmatNya; dan kiranya Dia meyiksa maka yang demikian itu adalah dengan keadilanNya. Dengan
memikirkan hal-hal yang serupa inilah, akan hadir di dalam hati
penghormatan terhadap Zat yang berfirman; iaitu Allah s.w.t. dan akan
hadir sama juga penghormatan terhadap percakapanNya.
Ketiga : Menghadirkan hati ketika dalam membaca al-Qur'an serta
meninggalkan segala terlintas dari unsur-unsur lain dan mengosongkan hati
daripanya, agar semua tumpuan terhala kepada bacaan membaca surah al-Qur'an
sedang hatinya lalai daripadanya, segera akan diulangi semula
pembacaannya. Sifat ini timbul kerana penghormatan yang telah kita
bicarakan sebelum ini, sebab orang yang menghormati percakapan Allah itu,
apabila ia membaca al-Qur'an itu perkara-perkara yang akan mengembirakan
hati, apabila si pembacanya ahli dalam perkara-perkara itu. Jadi apalah
gunanya lagi untuk mencarai kelapangan hati dengan memikirkan selain dari
isi al_Qur'an, kalau al_Qur'an sudah boleh memberikannya.
Keempat : Memikirkan arti-arti al-Qur'an dan ini akan terlaksana
dengan hadirnya hati ketika membaca al-Qur'an, sebab mungkin sekali ia
tidak memikirkan selain dari al-Qur'an, tetapi ia hanya mementingkan
pendengaran al-Qur'an buat dirinya sendiri, sedangkan ia tiada pula
memahami maknanya. Padahal maksud dari membaca al-Quran itu telah
memikirkan makna-maknanya. Kerana itulah disunnatkan membacanya dengan
tartil, sebab tartil pada lahirnya akan membolehkan pembaca memikirkan
maknanya secra batiniah:
Berkata Ali r.a.: Tiada gunanya sesuatu ibadat yang dilakukakan
tanpa imlu pengetahuan dan bacaan al-Qur'an yang dilakukan tanpa memikirkan
maknanya.
Andaikata dia tidak mampu memahami maknanya melainkan dengan
berulang-ulang membacanya, maka hendaklah mengulang pembacaannya itu,
kecuali jija dia sedang bersembahyang di belakang Imam.
Pernah diriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w bangun ditengah malam (bersembahyang) membaca suatu ayat yang diulang-ulanginya berkali-kali.
(bersambung)


0 Comments:
Post a Comment
<< Home